Penyebab Banyaknya Hoax Bertebaran

Halo, teman-teman! Apa kabar? Semoga sehat dan bahagia selalu ya. Kali ini, saya mau berbagi tentang sebuah fenomena yang mungkin sudah tidak asing lagi bagi kita semua, yaitu hoax atau berita bohong.

Hoax adalah informasi yang tidak benar atau palsu yang disebarkan dengan tujuan tertentu, biasanya untuk menipu, memprovokasi, atau menghasut orang lain. Hoax bisa berbentuk teks, gambar, video, audio, atau gabungan dari semuanya.

Penyebab Hoax Cepat Tersebar

Hoax bisa sangat berbahaya bagi kita dan masyarakat, karena bisa menimbulkan kebingungan, kepanikan, kebencian, konflik, bahkan kerugian materiil maupun non-materiil. Hoax juga bisa merusak reputasi seseorang atau lembaga, serta mengganggu ketertiban dan keamanan.

Lalu, apa sih penyebab banyaknya hoax bertebaran di tengah-tengah kita? Menurut berbagai sumber yang saya baca, ada beberapa faktor yang menyebabkan hoax bisa mudah dibuat dan disebarluaskan, antara lain:

  1. Kemajuan teknologi informasi dan komunikasi. Teknologi informasi dan komunikasi memudahkan kita untuk mengakses, mengolah, dan menyebarkan informasi dengan cepat dan murah. Namun, teknologi ini juga bisa dimanfaatkan oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab untuk membuat dan menyebarkan hoax dengan mudah.
  2. Jurnalisme yang lemah. Jurnalisme yang lemah membuat konten hoax terus berkembang karena tidak terbiasa dengan proses verifikasi, cek dan recheck. Banyak media yang tidak profesional dan tidak kredibel yang hanya mengejar klik dan sensasi tanpa memperhatikan kualitas dan kebenaran informasi.
  3. Faktor ekonomi. Faktor ekonomi yang lemah membuat peredaran hoax terus ada. Banyak orang yang mencari penghasilan dengan cara membuat dan menyebarkan hoax untuk mendapatkan uang dari iklan atau sponsor tertentu.
  4. Faktor politik. Faktor politik juga menjadi salah satu penyebab hoax bisa tersebar luas. Banyak pihak yang menggunakan hoax sebagai alat propaganda atau pembentukan opini publik untuk mendukung atau menyerang pihak lain.
  5. Faktor sosial-psikologis. Faktor sosial-psikologis juga berpengaruh terhadap penyebaran hoax. Banyak orang yang percaya dan menyebarkan hoax karena faktor kepercayaan, kemanfaatan, kesesuaian, atau keinginan untuk menjadi yang pertama.

Cara Menangkal Hoax

Nah, itu tadi beberapa penyebab banyaknya hoax bertebaran di masyarakat kita. Tentu saja, kita tidak boleh pasif dan diam saja menghadapi fenomena ini. Kita harus aktif dan kritis dalam mencari dan menyaring informasi yang kita terima.

Bagaimana caranya? Ada beberapa langkah sederhana yang bisa kita lakukan untuk menghindari dan menangkal hoax, yaitu:

  1. Selalu cek sumber informasi. Jangan percaya begitu saja dengan informasi yang kita dapatkan dari media sosial atau aplikasi pesan. Cek dulu sumbernya apakah berasal dari media resmi, lembaga terpercaya, atau narasumber kompeten.
  2. Selalu cek fakta informasi. Jangan mudah terpengaruh dengan judul atau gambar yang menarik atau mengejutkan. Baca dulu isi informasinya secara utuh dan teliti apakah ada data atau bukti yang mendukungnya.
  3. Selalu bandingkan informasi dengan sumber lain. Jangan hanya mengandalkan satu sumber informasi saja. Bandingkan dengan sumber lain untuk memastikan kebenaran informasi tersebut.

Apa yang sebaiknya dilakukan ketika anggota keluarga membagikan hoax?

Apa yang sebaiknya dilakukan ketika anggota keluarga membagikan hoax

Lalu, apa yang sebaiknya kita lakukan ketika anggota keluarga kita membagikan hoax? Berikut adalah beberapa tips yang bisa kalian coba:

  1. Jangan marah atau mengejek
    Reaksi pertama yang mungkin muncul ketika kita melihat anggota keluarga kita membagikan hoax adalah marah atau mengejek. Namun, hal ini tidak akan membantu menyelesaikan masalah. Malah bisa membuat mereka merasa tersinggung, tidak dihargai, atau malu. Hal ini bisa membuat mereka semakin sulit menerima kritik atau saran dari kita.
  2. Beri penjelasan dengan sopan dan santun
    Setelah menahan emosi, langkah selanjutnya adalah memberi penjelasan dengan sopan dan santun kepada anggota keluarga kita tentang informasi yang mereka bagikan. Kita bisa menggunakan data, fakta, atau sumber yang terpercaya untuk membuktikan bahwa informasi tersebut adalah hoax. Kita juga bisa memberi contoh dampak negatif yang bisa ditimbulkan oleh hoax tersebut.
  3. Ajak mereka untuk melakukan cek fakta
    Selain memberi penjelasan, kita juga bisa mengajak anggota keluarga kita untuk melakukan cek fakta sendiri sebelum membagikan informasi yang mereka terima. Kita bisa memberi tahu mereka cara-cara untuk melakukan cek fakta, misalnya dengan menggunakan mesin pencari, situs-situs verifikator, atau aplikasi-aplikasi antihoax. Kita juga bisa memberi tahu mereka tanda-tanda hoax, misalnya judul yang sensasionalis, sumber yang tidak jelas, atau gambar yang diedit.
  4. Beri apresiasi jika mereka mau mendengarkan
    Jika anggota keluarga kita mau mendengarkan penjelasan kita dan mau melakukan cek fakta, kita harus memberi apresiasi kepada mereka. Kita bisa mengucapkan terima kasih, pujian, atau dukungan kepada mereka. Hal ini akan membuat mereka merasa dihargai dan termotivasi untuk lebih berhati-hati dalam menyebarkan informasi.
  5. Jangan hapus atau keluar dari grup
    Mungkin ada sebagian dari kita yang merasa frustasi dan ingin menghapus atau keluar dari grup WhatsApp atau media sosial lainnya yang sering dijadikan tempat menyebarkan hoax oleh anggota keluarga kita. Namun, hal ini tidak akan menyelesaikan masalah. Justru akan membuat kita kehilangan kesempatan untuk memberi edukasi dan literasi digital kepada mereka.
  6. Jadilah teladan
    Salah satu cara terbaik untuk mencegah anggota keluarga kita membagikan hoax adalah dengan menjadi teladan bagi mereka. Kita harus menunjukkan bahwa kita selalu berhati-hati dalam menyebarkan informasi dan selalu melakukan cek fakta sebelum membagikan sesuatu. Kita juga harus bersikap kritis dan objektif dalam menerima informasi dan tidak mudah terpengaruh oleh hoax.

Hal yang bisa diakibatkan oleh Hoax

Hoax adalah berita atau informasi palsu yang disebarkan dengan tujuan tertentu, seperti memanipulasi opini publik, menghasut kebencian, atau mendapatkan keuntungan. Hoax sangat berbahaya dan bisa menimbulkan dampak negatif bagi masyarakat, seperti:

  • Meresahkan dan membuat panik. Hoax seringkali mengandung unsur provokasi, sensasionalisme, atau ketakutan yang bisa memicu reaksi emosional yang berlebihan dari pembacanya. Misalnya, hoax tentang pandemi Covid-19 yang menyebarkan informasi salah atau menyesatkan tentang penularan, gejala, pengobatan, atau vaksinasi virus corona. Hal ini bisa membuat masyarakat menjadi cemas, bingung, atau tidak percaya dengan upaya pencegahan dan penanganan yang dilakukan oleh pemerintah dan tenaga kesehatan .
  • Memecah belah persatuan dan kesatuan. Hoax juga bisa dimanfaatkan untuk menyerang kelompok, organisasi, atau individu tertentu dengan cara mencemarkan nama baik, menuduh tanpa bukti, atau menyebarkan fitnah dan ujaran kebencian. Hoax bisa memicu konflik sosial, politik, atau agama yang mengancam stabilitas dan keharmonisan masyarakat .
  • Mengancam kesehatan fisik dan mental. Hoax tidak hanya berdampak pada aspek sosial, tetapi juga pada aspek kesehatan. Hoax bisa menyebabkan stres, depresi, gangguan tidur, gangguan kecemasan, atau gangguan mental lainnya akibat terpapar informasi palsu yang menimbulkan ketidaknyamanan atau ketakutan . Hoax juga bisa membahayakan kesehatan fisik jika mendorong masyarakat untuk melakukan tindakan yang tidak sesuai dengan protokol kesehatan, seperti mengonsumsi obat-obatan yang tidak teruji, mengabaikan protokol 3M (memakai masker, menjaga jarak, dan mencuci tangan), atau menolak vaksinasi.
  • Mengakibatkan kerugian materi. Hoax juga bisa merugikan secara finansial jika berkaitan dengan penipuan online, phishing, atau malware. Hoax bisa menyamar sebagai tawaran menarik, undian berhadiah, bantuan sosial, atau pesan darurat yang meminta data pribadi, nomor rekening, atau kode OTP (one time password) dari korban. Jika korban tergiur atau terkecoh oleh hoax tersebut, maka mereka bisa kehilangan uang, data pribadi, atau akses ke akun online mereka.

Bagaimana Cara Mengenali Hoax Sejak Dini? Apa Ciri Cirinya?

Untuk mengenali hoax sejak dini, kita perlu memperhatikan beberapa ciri-cirinya, antara lain:

  • Tidak memiliki sumber yang jelas atau terpercaya. Biasanya hoax tidak mencantumkan nama penulis, tanggal publikasi, atau referensi yang valid. Hoax juga sering berasal dari situs yang tidak profesional atau tidak dikenal.
  • Mengandung unsur provokasi, sensasionalisme, atau fitnah. Biasanya hoax bertujuan untuk membangkitkan emosi negatif, seperti takut, marah, benci, atau curiga terhadap pihak tertentu. Hoax juga sering menyajikan fakta yang tidak lengkap, tidak akurat, atau tidak sesuai dengan konteks.
  • Menggunakan bahasa yang buruk atau tidak baku. Biasanya hoax ditulis dengan asal-asalan, tanpa memperhatikan tata bahasa, ejaan, atau tanda baca yang benar. Hoax juga sering menggunakan kata-kata kasar, mengejek, atau menghina.
  • Tidak sesuai dengan logika atau pengetahuan umum. Biasanya hoax mengandung informasi yang tidak masuk akal, bertentangan dengan ilmu pengetahuan, atau bertabrakan dengan fakta yang sudah diketahui sebelumnya.

Jika kita menemukan informasi yang mencurigakan seperti itu, kita harus melakukan pengecekan ulang untuk memastikan kebenarannya. Kita bisa menggunakan mesin pencari untuk mencari informasi serupa dari sumber yang lebih terpercaya. Kita juga bisa menggunakan fitur reverse image search untuk melacak asal-usul gambar yang digunakan dalam informasi tersebut. Selain itu, kita bisa mengunjungi situs-situs yang khusus menyediakan layanan pemberantasan hoax, seperti TurnBackHoax.id atau CekFakta.com.

Dengan cara-cara tersebut, kita bisa lebih cerdas dan kritis dalam mengonsumsi informasi di era digital ini. Kita juga bisa mencegah penyebaran hoax yang bisa merugikan diri sendiri dan orang lain.

Itu dia macam-macam pembahasan Hoax yang bisa kita pelajari, semoga informasi ini bisa membantu kita menjadi manusia yang lebih bermanfaat. Terima kasih sudah membaca~

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments