H&M, salah satu raksasa industri mode dunia, baru-baru ini mengumumkan rencana mereka untuk menggunakan model berbasis kecerdasan buatan (AI) dalam kampanye pemasaran mereka. Langkah ini bertujuan untuk menciptakan “kembar digital” dari model manusia yang akan digunakan dalam berbagai konten promosi. Namun pengumuman ini memicu perdebatan sengit di kalangan pekerja industri mode, aktivis, dan masyarakat umum. Artikel ini akan membahas detail rencana H&M, alasan di balik langkah ini, serta dampaknya terhadap industri mode dan pekerjanya.
Apa yang Direncanakan H&M?
H&M mengungkapkan bahwa mereka berencana menciptakan 30 “kembar digital” dari model manusia sepanjang tahun ini. Kembar digital ini akan digunakan dalam berbagai kampanye pemasaran, termasuk unggahan media sosial dan iklan digital. Menurut H&M, model manusia tetap akan memiliki hak atas kembar digital mereka dan akan menerima kompensasi setiap kali avatar digital mereka digunakan, mirip dengan sistem pembayaran untuk pemotretan biasa.
Langkah ini, menurut H&M, adalah bagian dari eksplorasi mereka untuk memanfaatkan teknologi baru guna menampilkan mode dengan cara yang lebih kreatif. Jorgen Andersson, Chief Creative Officer H&M, menyatakan bahwa perusahaan ingin “merangkul manfaat teknologi baru sambil tetap setia pada komitmen terhadap gaya personal.”
Alasan di Balik Langkah Ini

Ada beberapa alasan mengapa H&M memutuskan untuk menggunakan model berbasis AI:
- Efisiensi Biaya
Dengan menggunakan model digital, H&M dapat mengurangi biaya produksi yang biasanya melibatkan fotografer, penata rias, dan kru lainnya. Proses ini juga memungkinkan perusahaan untuk mempercepat pembuatan konten pemasaran. - Inovasi Teknologi
Sebagai salah satu merek mode terbesar di dunia, H&M ingin memimpin dalam adopsi teknologi baru. Penggunaan AI dianggap sebagai langkah inovatif yang dapat memberikan keunggulan kompetitif di pasar yang semakin digital. - Fleksibilitas Kreatif
Model berbasis AI memungkinkan H&M untuk menciptakan kampanye yang lebih fleksibel dan dapat disesuaikan dengan kebutuhan pasar. Avatar digital dapat dengan mudah dimodifikasi untuk mencerminkan berbagai gaya dan tren mode.
Kontroversi yang Muncul

Meskipun langkah ini terlihat inovatif, banyak pihak yang mengkritik rencana H&M. Berikut adalah beberapa isu utama yang menjadi sorotan:
- Dampak pada Pekerja Industri Mode
Penggunaan model berbasis AI dapat mengancam pekerjaan banyak pekerja di industri mode, termasuk model, fotografer, penata rias, dan kru produksi lainnya. Sara Ziff, pendiri organisasi Model Alliance, menyatakan bahwa langkah ini dapat menggantikan banyak pekerja kreatif di komunitas mode. - Masalah Hak dan Kompensasi
Meskipun H&M berjanji untuk memberikan kompensasi kepada model manusia atas penggunaan kembar digital mereka, banyak yang mempertanyakan bagaimana sistem ini akan diterapkan secara adil. Ada kekhawatiran bahwa model mungkin tidak memiliki kendali penuh atas bagaimana avatar digital mereka digunakan. - Kehilangan Sentuhan Manusia
Beberapa kritikus berpendapat bahwa penggunaan model berbasis AI dapat mengurangi keaslian dan daya tarik emosional dari kampanye pemasaran. Mereka khawatir bahwa konten yang sepenuhnya digital akan kehilangan elemen manusia yang membuatnya lebih relatable bagi konsumen. - Etika Penggunaan AI
Langkah ini juga memicu diskusi tentang etika penggunaan AI dalam industri kreatif. Paul W. Fleming, Sekretaris Jenderal Serikat Pekerja Seni dan Hiburan Inggris, menekankan bahwa inovasi dalam AI tidak boleh menjadi alasan untuk mengurangi hak pekerja atau meningkatkan keuntungan dengan mengorbankan tenaga kerja manusia.
Reaksi dari Industri Mode

Pengumuman H&M ini memicu berbagai reaksi di industri mode. Beberapa pihak memuji langkah ini sebagai inovasi yang diperlukan untuk menghadapi tantangan era digital. Namun banyak juga yang mengkritik langkah ini sebagai bentuk eksploitasi teknologi yang dapat merugikan pekerja.
H&M bukanlah merek pertama yang bereksperimen dengan teknologi ini. Pada tahun 2023, Levi Strauss & Co. mengumumkan rencana mereka untuk menggunakan model berbasis AI sebagai pelengkap model manusia dalam kampanye mereka. Namun setelah menerima kritik tajam, Levi’s menegaskan bahwa mereka tidak akan mengurangi pemotretan dengan model asli. Demikian pula, merek mode Spanyol Mango meluncurkan kampanye yang sepenuhnya dihasilkan oleh AI untuk koleksi pakaian muda mereka.
Dampak Jangka Panjang

Penggunaan model berbasis AI oleh H&M dapat memiliki dampak jangka panjang pada industri mode. Di satu sisi, langkah ini dapat mendorong inovasi dan efisiensi dalam produksi konten pemasaran. Namun di sisi lain, langkah ini juga dapat memperburuk ketidakstabilan pekerjaan di industri yang sudah menghadapi tantangan besar.
Selain itu, langkah ini dapat memicu diskusi yang lebih luas tentang peran teknologi dalam industri kreatif. Bagaimana kita dapat memastikan bahwa teknologi digunakan untuk mendukung, bukan menggantikan, pekerja manusia? Bagaimana kita dapat menciptakan sistem yang adil dan etis dalam penggunaan AI?
Kesimpulan
Rencana H&M untuk menggunakan model berbasis AI adalah langkah yang ambisius dan kontroversial. Meskipun langkah ini menawarkan potensi besar untuk inovasi, ada banyak isu etis dan sosial yang perlu dipertimbangkan. Industri mode harus menemukan cara untuk memanfaatkan teknologi baru tanpa mengorbankan hak dan kesejahteraan pekerja manusia.
Apakah langkah ini akan menjadi awal dari era baru dalam industri mode atau justru memicu lebih banyak kontroversi? Hanya waktu yang akan menjawab. Namun satu hal yang pasti, diskusi tentang penggunaan AI dalam industri kreatif baru saja dimulai. 😊
